PhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucket

Pencitraan Golkar Tak Agresif

Pencitraan politik Partai Golkar dinilai kurang agresif sehingga dalam berbagai survei popularitasnya disalip lawan-lawannya.

Analis politik dan kebijakan publik Universitas Indonesia Andrinof A Chaniago menyatakan, pada periode ini Golkar seperti kehilangan roh organisasi. Dia tidak menemukan figur yang bisa menjadi ikon Golkar dalam melakukan konsolidasi.Menurut dia, posisi Jusuf Kalla sebagai wakil presiden kurang menguntungkan untuk melakukan konsolidasi. Seharusnya, ada tokoh lain yang bisa menjadi ikon partai sehingga bisa berdampak positif terhadap konsolidasi internal.

“Peran itu seharusnya dimainkan Surya Paloh dan Agung Lakosno.Sayangnya kedua tokoh tersebut belum bisa menjadi ikon baru Golkar.Kondisi ini berbeda ketika Golkar di bawah kendali Akbar Tandjung yang bisa menjadikan dirinya sebagai ikon partai,”kata Andrinof kepada SINDO di Jakarta kemarin. Andrinof juga menilai periode ini Golkar tak mampu melakukan terobosan politik progresif yang bisa mendongkrak suara.Penerapan suara terbanyak tidak bisa terlalu diharapkan karena semua parpol akan menerapkan sistem itu sebagai konsekuensi putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

“Periode lalu ada konvensi yang tidak dilakukan parpol mana pun. Sekarang nggak ada yang istimewa dari Golkar,” paparnya. Kalau mencermati berbagai pola pencitraan kontestan Pemilu 2009, Golkar sangat ketinggalan.Kondisi ini berbeda dengan Partai Demokrat yang mampu mencitrakan diri berhasil dalam pemberantasan korupsi serta sejumlah program prorakyat seperti bantuan langsung tunai (BLT), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.

Artinya,kebijakan pemerintah yang prorakyat berdampak positif bagi Demokrat,namun tidak bagi Golkar yang sama-sama terlibat di dalamnya. Sebaliknya,Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mampu mempertahankan tingkat elektebilitasnya karena memainkan peran sebagai kekuatan oposisi.PDIP selalu memanfaatkan kelemahan pemerintah sebagai senjata. Puncak dukungan publik kepada PDIP terlihat ketika menolak kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Jika kondisi ekonomi membaik,Demokrat sebagai partai pemerintah dapat menuai popularitas. Sebaliknya jika kondisi ekonomi sedang buruk,PDIP sebagai partai oposisi akan menjadi partai harapan publik. Kondisi inilah yang membuat gusar sejumlah kader Golkar.Ketua Dewan Pim-pinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Gorontalo Fadel Muhammad mendesak petinggi beringin mewaspadai penurunan suara seperti yang tergambar dari hasil survei.

Fadel menegaskan, DPD I dan DPD II sangat bergantung pada kinerja Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dalam meningkatkan perolehan suara pada Pemilu 2009. ”Di daerah sekarang ini khawatir dan waswas dengan hasil survei tersebut. Pasalnya, DPP Golkar tidak berusaha meningkatkan kinerjanya, tidak ada isu-isu yang bisa menaikkan popularitas Partai Golkar,” ungkap Gubernur Gorontalo ini. Fadel sangat mendukung target 30% suara seperti yang dicanangkan DPP.

Namun, pihaknya khawatir target tersebut meleset karena tidak ada penjabaran strategi yang konkret. “Kenyataan di lapangan seperti itu.JK memang sering berkunjung ke daerah-daerah, tapi dalam kapasitas wakil presiden, bukan sebagai ketua umum.Tak banyak yang bisa dilakukan untuk partai di daerah,”ungkapnya kecewa.

0 komentar:

Posting Komentar

Bang Ade Pilihanku © 2009. Design by :Bang Ade Center Sponsored by: Bang Ade